Subulussalam – Alkah Dzikir Baitul Babussalam kembali menyelenggarakan Pemasukan Thariqat Naqsabandiyah Alkhalidiyah. Acara berlangsung pada Sabtu (11/7/2026) hingga Ahad (12/7/2026) pagi di Dusun Jambu Mbelang, Desa Suka Makmur, Kecamatan Simpang Kiri, Kota Subulussalam, Aceh.
Kegiatan ini bertujuan membina generasi penerus thariqat agar senantiasa menjaga adab dan istiqamah dalam berzikir. Selain itu, para peserta didorong untuk mengamalkan nilai-nilai spiritual dalam kehidupan sehari-hari.
Penyelenggaraan acara dipimpin oleh H. Abdul Hamid Padang, atau yang akrab disapa Pak Joka. Beliau merupakan Pimpinan Alkah Dzikir Baitul Babussalam sekaligus Ketua Komisi B DPRD Kota Subulussalam.

Prosesi pembaiatan diikuti oleh berbagai kalangan, mulai dari santri Pondok Pesantren Tazkiyaturraidah hingga warga sekitar. Sebanyak tujuh orang resmi memasuki Thariqat Naqsabandiyah Alkhalidiyah dalam kesempatan ini.
Guna mendukung kelancaran acara, Alkah Dzikir dan Rumah Suluk Baitul Jafar mengirimkan beberapa petugasnya yang tiba di Subulussalam sejak Jumat (10/7/2026). Tim petugas ini terdiri dari Abangda Fitra Dhana sebagai petugas pembaiat, yang didampingi oleh Abangda Maman Handoko, Abangda Suarno, dan Abangda Dickfan Yozart.
Sebagai informasi, Baitul Jafar adalah Alkah Dzikir dan Rumah Suluk yang berlokasi di Desa Klambir Lima Kebun, Hamparan Perak, Deli Serdang. Baitul Jafar aktif melakukan pendampingan pada alkah-alkah dzikir tarekat Naqsyabandiyah Al Khalidiyah di berbagai kota dan kabupaten di wilayah Sumatera.
Tim petugas dari Baitul Jafar tersebut juga dibantu oleh perwakilan Alkah Dzikir Baitul Babussalam, Abangda Ust. Abdul Izul Azhar. Beliau saat ini juga menjabat sebagai Pimpinan Pondok Pesantren Tazkiyaturraidah.
Setelah proses pembaiatan, seluruh jamaah mengikuti kegiatan shalat subuh dan tawajuh atau zikir bersama. Rangkaian kegiatan ditutup dengan acara sarapan bersama dalam suasana penuh keakraban.
Di balik kegiatan ini, Baitul Babussalam memiliki potensi besar sebagai pusat pembinaan umat. Kawasan seluas 50 hektare ini dikelola di bawah Yayasan H. Abdul Hamid Padang.
Sektor yang dikembangkan mencakup perkebunan kelapa sawit, durian, budidaya semangka, hingga jagung. Selain itu, terdapat pengembangan Pondok Pesantren Tazkiyaturraidah, Alkah Dzikir Baitul Babussalam, dan Muallaf Center.

Rombongan Alkah Dzikir Baitul Ja’far sempat meninjau langsung berbagai sektor pengembangan tersebut. Mereka melihat langsung kawasan perkebunan serta mengunjungi Muallaf Center.
Muallaf Center sendiri telah berdiri sejak 2020 di atas lahan seluas 2,5 hektare. Fasilitas ini menyediakan tempat pembinaan keislaman sekaligus hunian gratis bagi muallaf yang membutuhkan pendampingan.
Pak Joka menekankan bahwa pembinaan di Muallaf Center bersifat holistik. Ia menegaskan bahwa aspek ekonomi menjadi bagian penting dari pemberdayaan muallaf.
“Para muallaf juga perlu dibekali dengan kemampuan untuk mandiri secara ekonomi sehingga dapat menjalani kehidupan yang lebih baik,” ujar Pak Joka.
Ia menjelaskan bahwa kawasan tersebut dikembangkan menjadi lahan pertanian yang dikelola bersama oleh para penghuni.
“Proses pembinaan spiritual berjalan seiring dengan pemberdayaan ekonomi,” tambahnya.
Melalui penyelenggaraan ini, Baitul Babussalam menunjukkan komitmen kuat dalam pembinaan umat. Sinergi antara nilai ruhani, pendidikan, dan pemberdayaan ekonomi menjadi kunci utama.
Langkah ini diharapkan dapat melahirkan generasi yang beriman, berakhlak, dan memberikan manfaat luas bagi lingkungan sekitarnya.















