Merawat Jejak Persaudaraan Dua Thariqat, Baitul Ja’far Bersilaturahmi ke Surau Jalaliyah Marendal

04 November 2026

•

Durasi baca 3 menit

Medan — Kehangatan persaudaraan dan penghormatan terhadap perjalanan keilmuan menjadi suasana yang mewarnai kunjungan silaturahmi Alkah Dzikir Baitul Ja’far ke Alkah Surau Jalaliyah Marendal, Selasa, 3 November 2026. Kunjungan yang berlangsung sejak pukul 08.30 WIB tersebut menjadi kesempatan untuk mempererat hubungan antara Thariqat Naqsyabandiyah Khalidiyah dan Thariqat Naqsyabandiyah Jalaliyah.

Kedatangan Baitul Ja’far disambut langsung oleh mursyid Thariqat Naqsyabandiyah Jalaliyah, Dr. Syekh Muhammad Nur Ali Alkholidi, S.Ag., M.Hum., bersama ahlul bait dan jamaah Surau Jalaliyah. Dalam kunjungan tersebut, Syaidi Syekh Dr. H. Ahmad Baqi Arifin, S.H., M.H., M.M., CPM., MBA., hadir bersama sejumlah jamaah Baitul Ja’far yang turut mendampingi.

Pertemuan berlangsung dalam suasana akrab dan penuh kekeluargaan. Sejak kedatangan tamu, percakapan mengalir dengan hangat, diselingi canda dan tawa. Hidangan teh dan gorengan turut menemani perbincangan yang berlangsung santai, menciptakan suasana layaknya pertemuan keluarga yang telah lama saling mengenal.

Salah satu hal menarik dari sosok Dr. Syekh Muhammad Nur Ali Alkholidi adalah latar belakang pendidikannya. Beliau diketahui pernah menempuh pendidikan Strata 1 di Fakultas Agama Islam Universitas Pembangunan Panca Budi Medan. Hal ini menjadi salah satu titik kedekatan tersendiri dalam pertemuan tersebut, mengingat hubungan beliau dengan lingkungan pendidikan yang juga memiliki keterkaitan dengan Baitul Ja’far.

Dalam perbincangan, hubungan historis antara Thariqat Naqsyabandiyah Jalaliyah dan Khalidiyah turut menjadi salah satu pokok pembahasan. Sosok Syekh Jalaluddin, yang dikenal dengan sebutan Nambo, memiliki hubungan kekeluargaan yang erat dengan perjalanan keluarga Ayahanda Guru Syaidi Syekh Prof. Dr. H. Kadirun Yahya, M.Sc. Beliau merupakan ayah dari Yang Mulia Umi Habibah, sekaligus ayah mertua dari Yang Maha Mulia Ayahanda Guru.

Dalam silsilah hubungan tersebut, Syekh Jalaluddin menjadi sosok yang memiliki tempat tersendiri dalam sejarah keluarga dan perjalanan spiritual yang menghubungkan kedua lingkungan thariqat. Syekh Muhammad Nur Ali Alkholidi sendiri merupakan penerus dari Syekh Jalaluddin dalam keberlanjutan Thariqat Naqsyabandiyah Jalaliyah.

Menariknya, suasana komunikasi dalam pertemuan tersebut juga mengingatkan pada cara penyampaian Ayahanda Guru Syaidi Syekh Prof. Dr. H. Kadirun Yahya, M.Sc. Percakapan yang berlangsung tidak kaku, melainkan dipenuhi cerita, nasihat, dan canda yang membuat suasana semakin dekat. Kehangatan tersebut memperlihatkan bahwa persaudaraan antarsesama thariqat dapat dibangun melalui komunikasi yang terbuka dan saling menghargai.

Selain membicarakan hubungan persaudaraan dan sejarah kedua thariqat, pertemuan tersebut juga menjadi kesempatan untuk mengetahui perkembangan Surau Jalaliyah Marendal. Dalam penjelasan yang disampaikan, perkembangan kegiatan dakwah dan pembinaan jamaah di lingkungan Jalaliyah terus diarahkan melalui pembentukan tim khusus dakwah. Tim tersebut mendapatkan pendidikan secara khusus agar memiliki penguasaan terhadap kitab-kitab keislaman, Al-Qur’an, dan hadis, sekaligus mampu menyampaikan pemikiran serta ajaran Syekh Jalaluddin kepada masyarakat.

Salah satu gagasan menarik dalam pengembangan tersebut adalah konsep Healing Tasawuf pada rumah suluk. Rumah suluk tidak hanya dipandang sebagai tempat pelaksanaan kegiatan spiritual, tetapi juga diarahkan menjadi ruang pembelajaran, pembinaan, dan pemulihan diri melalui pendekatan tasawuf.

Konsep pengembangan yang disampaikan juga mengarah pada kawasan terpadu dan berkelanjutan atau sustainable. Di dalamnya direncanakan keterpaduan antara fasilitas suluk, pesantren, resort, hotel, vila, hingga lapangan golf. Berbagai fasilitas tersebut diarahkan agar tetap memiliki keterkaitan dengan fungsi utama kawasan sebagai tempat pembinaan spiritual dan pendidikan keislaman.

Gagasan tersebut memperlihatkan upaya menghadirkan rumah suluk dalam pendekatan yang lebih luas, dengan memadukan kegiatan keagamaan, pendidikan, pelayanan, dan pengembangan kawasan. Dengan demikian, rumah suluk diharapkan dapat menjadi tempat yang tidak hanya dikunjungi untuk kegiatan suluk, tetapi juga menjadi ruang bagi masyarakat untuk mengenal dan mendalami nilai-nilai tasawuf.

Kunjungan Baitul Ja’far ke Surau Jalaliyah Marendal akhirnya menjadi lebih dari sekadar pertemuan antarlembaga keagamaan. Ada hubungan sejarah, kekeluargaan, dan persaudaraan spiritual yang kembali diperbincangkan dalam suasana penuh keakraban.

Melalui silaturahmi ini, hubungan antara Thariqat Naqsyabandiyah Khalidiyah dan Jalaliyah diharapkan terus terpelihara. Perbedaan lingkungan dan perjalanan masing-masing tidak menghilangkan kedekatan yang telah terhubung melalui sejarah, guru, dan nilai-nilai persaudaraan. Sebaliknya, perjumpaan semacam ini menjadi ruang untuk saling mengenal, berbagi perkembangan, serta menjaga warisan keilmuan dan spiritual agar tetap hidup dari generasi ke generasi.

Share this post

November 4, 2026

Copy Title and Content
Content has been copied.

Telah Terbit: Trilogi

Telah terbit 3 buku (Trilogi) karya Dr. H. Abi Ahmad Baqi Arifin, SH. MH. MBA. CPM. Cphm dengan judul “Cahaya Terang“, “Kematian Kedua” dan “Semesta Keabadian“. Hubungi kami untuk pemesanan (Rp. 350.000/paket).