Lembaga Ilmiah Metafisika Tasawuf Islam (LIMTI) bekerja sama dengan Program Studi Filsafat Universitas Pembangunan Panca Budi (UNPAB) dan Baitul Jafar menyelenggarakan Kuliah Umum daring bertajuk “Memahami Metafisika Eksakta: Warisan Pemikiran YMM. Sayyidi Syaikh Prof. Dr. H. Kadirun Yahya, M.A., M.Sc. (Q.S.)” pada Sabtu, 18 Juli 2026. Forum ini mempertemukan kajian akademik dan tradisi tasawuf dalam menelaah salah satu gagasan penting yang diwariskan oleh pendiri LIMTI.
Saksikan video Kuliah Umum selengkapnya:
Kuliah umum ini menghadirkan Buya Sayyidi Syaikh Drs. H. Ahmad Farki Al-Khalidi (Q.S.), Mursyid Tarekat Naqsyabandiyah, sebagai narasumber. Acara diawali dengan sambutan Rektor UNPAB, Dr. H. Muhammad Isa Indrawan, S.E., M.M., dan Ketua Umum LIMTI, Dr. H. Ahmad Baqi Arifin, S.H., M.H.
Hadir pula Drs. Ahmad Khaidir, S.E., M.M. sebagai panelis. Seluruh rangkaian kuliah umum dan sesi diskusi dipandu oleh Dr. Bakhtiar Siregar, S.Pd.I., M.Pd. sebagai moderator.
Berangkat dari Pencarian Jati Diri Manusia
Dalam pemaparannya, Sayyidi Syaikh Ahmad Farki (QS.) mengawali pembahasan metafisika dari pertanyaan mendasar tentang manusia: apa manusia itu, siapa manusia itu, dan kemampuan apa yang dimilikinya.
Ketiga pertanyaan tersebut diterangkan melalui pembahasan mengenai substansi, eksistensi, dan kompetensi manusia. Pembahasan ini menjadi pintu masuk untuk melihat manusia tidak hanya dari sisi fisik dan perilakunya, tetapi juga dari dimensi batin dan kerohanian.
Beliau turut mengingatkan pentingnya memahami latar belakang dari setiap istilah. Kata-kata seperti jiwa, roh, hati, dan metafisika dapat mempunyai pengertian berbeda dalam filsafat, psikologi, kedokteran, maupun agama. Karena itu, setiap dialog ilmiah perlu diawali dengan memperjelas pengertian yang digunakan agar perbedaan istilah tidak menimbulkan kesalahpahaman.
Metafisika Eksakta sebagai Pendekatan Dakwah Tasawuf
Metafisika eksakta dijelaskan sebagai kajian terhadap persoalan yang bersifat abstrak, transenden, dan gaib melalui pendekatan serta orientasi pada ilmu eksakta. Konsep-konsep dari matematika, fisika, kimia, mekanika, dan biologi digunakan sebagai media penjelas untuk membantu masyarakat memahami gagasan kerohanian.
Dalam konteks akademik, pendekatan tersebut tidak disamakan dengan ilmu empiris yang teorinya diuji melalui eksperimen laboratorium. Metafisika eksakta lebih tepat ditempatkan sebagai pendekatan filosofis-keagamaan dan metode dakwah tasawuf yang dicetuskan serta dipopulerkan oleh Sayyidi Syaikh Prof. Dr. H. Kadirun Yahya (QS.).
Melalui penggunaan bahasa dan perumpamaan dari ilmu pengetahuan, berbagai gagasan kerohanian diharapkan dapat dijelaskan secara lebih sistematis dan mudah dipahami.
Sayyidi Syaikh Ahmad Farki (QS.) juga membedakan metafisika dalam pengertian umum dengan metafisika Islam. Metafisika umum dapat dibicarakan dalam ruang lintas keyakinan, sedangkan metafisika Islam berkaitan erat dengan tasawuf dan, dalam ranah penerapannya, dengan tarekat.
Beliau menegaskan bahwa pembahasan tarekat diarahkan pada ilmu kerohanian, bukan sebagai upaya untuk menjelaskan hakikat Tuhan.
Dialog yang Memperluas Pembahasan
Sesi tanya jawab memperluas pembahasan kuliah umum ke sejumlah tema. Di antaranya adalah perbedaan penggunaan istilah jiwa dan roh, pengenalan ajaran kerohanian kepada anak berkebutuhan khusus, hubungan metafisika dengan agama, penyampaian metafisika dalam ruang lintas iman, serta tanggapan terhadap kritik mengenai penggunaan istilah-istilah sains dalam tasawuf.
Dialog berlangsung hangat dan diikuti ratusan peserta melalui Zoom maupun kegiatan menonton bersama di sejumlah tempat.
Melalui kegiatan ini, LIMTI, UNPAB, dan Baitul Jafar melanjutkan pengkajian terhadap warisan pemikiran Sayyidi Syaikh Prof. Dr. H. Kadirun Yahya (QS.) sekaligus memperkuat pertemuan antara tradisi kerohanian, filsafat, dan diskursus akademik.
Saksikan video Kuliah Umum di atas untuk mengikuti pemaparan serta sesi dialog secara lengkap.
















