Menyertai Guru dalam Berziarah, Menelusuri Jejak Syekh Sulaiman Lubis Al-Khalidi di Hutapungkut

13 September 2026

Durasi baca 2 menit

Hutapungkut – pada Sabtu (12/9/2026) menjadi sebuah momen yang sarat makna bagi sejumlah murid dan ikhwan yang menyertai Syekh H. Ahmad Farki Al-Khalidi dalam berziarah ke makam Syekh Sulaiman Lubis Al-Khalidi. Ziarah tersebut bukan sekadar perjalanan menuju sebuah makam. Bagi para murid yang ikut menyertai, perjalanan ini menjadi kesempatan untuk mendampingi guru dalam mengenang salah satu sosok ulama yang memiliki jejak dalam perjalanan keilmuan dan thariqat.

Sejumlah tokoh turut menyertai perjalanan tersebut, di antaranya Syekh Dr. H. Ahmad Baqi Arifin, S.H., M.M., M.H., MBA., CPM., Syekh H. Ahmad Syukron Bestari, S.E., M.M.S.I., serta beberapa Tuan Syekh lainnya. Kebersamaan tersebut memperlihatkan hubungan guru dan murid yang tidak hanya berlangsung dalam relung makrifat, tetapi juga hadir dalam berbagai kesempatan untuk menyertai perjalanan guru, termasuk ketika berziarah dan mengenang para pendahulu.

Perjalanan menuju Hutapungkut sendiri ditempuh melalui sejumlah tempat yang memiliki keterkaitan dengan perjalanan dan jejak masa lalu. Rombongan berangkat dari Baitul Ja’far pada Kamis, 10 September 2026. dan melanjutkan perjalanan menuju Siborong-borong. Di sana, perjalanan diisi dengan salat Subuh berjamaah dan sarapan di masjid sebelum kemudian melanjutkan perjalanan menuju Sipirok.

Memasuki perjalanan berikutnya, rombongan melewati sejumlah tempat yang memiliki cerita tersendiri dalam perjalanan menuju Hutapungkut, di antaranya makam Syekh Syihabuddin atau yang dikenal sebagai Syekh Sayur Matinggi.

Rombongan kemudian beristirahat, melaksanakan salat, dan makan di Masjid Hj. Zulyani Lubis, Panyabungan. Perjalanan dilanjutkan dengan melewati Pondok Pesantren Musthafawiyah Purba Baru, kemudian melewati sebuah mess tentara yang dahulu menjadi salah satu tempat persinggahan Ayahandaguru prof. Dr. H. Kadirun Yahya Al-khalidi, M.Sc. ketika melakukan perjalanan menuju makam di Hutapungkut.

Jejak perjalanan kemudian berlanjut melewati Masjid Syekh Syiabuddin di Aek Libung serta rumah Ayahanda Guru di Siarang Karang yang dahulu juga menjadi tempat beristirahat ketika melakukan perjalanan menuju Hutapungkut.

Setelah itu, rombongan melanjutkan perjalanan untuk bersilaturahmi ke Surau Baitul Tharmizie sebelum akhirnya menuju Hutapungkut.

Sekitar pukul 09.00, pada tanggal 12 September 2026 perjalanan menuju makam Syekh Sulaiman Lubis Al-Khalidy dimulai. Sesampainya di lokasi, para murid dan ikhwan menyertai Syekh H. Ahmad Farki Al-Khalidi dalam ziarah ke makam tersebut.

Bagi mereka yang hadir, ziarah menjadi ruang untuk mengenang kembali jejak para ulama dan pendahulu, sekaligus menjaga hubungan antara generasi yang melanjutkan perjalanan keilmuan dengan mereka yang telah lebih dahulu memberikan pengabdian.

Momen tersebut juga menjadi gambaran sederhana tentang adab seorang murid dalam menyertai gurunya. Di tengah perjalanan yang panjang, kebersamaan tidak hanya dibangun melalui pertemuan dan pembelajaran, tetapi juga melalui kesediaan untuk hadir, menemani, dan mengambil bagian dalam perjalanan guru.

Dari Baitul Ja’far menuju Hutapungkut, perjalanan ini pada akhirnya tidak hanya berbicara tentang jarak yang ditempuh, tetapi juga tentang jejak yang kembali ditelusuri—jejak ulama, jejak keilmuan, dan penghormatan kepada para pendahulu.

Share this post

September 13, 2026

Copy Title and Content
Content has been copied.

Telah Terbit: Trilogi

Telah terbit 3 buku (Trilogi) karya Dr. H. Abi Ahmad Baqi Arifin, SH. MH. MBA. CPM. Cphm dengan judul “Cahaya Terang“, “Kematian Kedua” dan “Semesta Keabadian. Hubungi kami untuk pemesanan (Rp. 350.000/paket).